Rektor UIN IB Berikan Taushiyah di Istana Wakil Presiden

HumasUINIB, 04/06/18

Rektor UIN Imam Bonjol Padang Dr. Eka Putra Wirman, Lc. MA didaulat memberikan taushiyah di hadapan para tokoh orang dan sumando Minangkabau yang diundang Wakil Presiden RI Bapak Jusuf Kalla. Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu 30 Mei di Gedung II Istana Wakil Presiden RI, jalan Kebun Sirih Jakarta Pusat dalam rangka buka bersama ramadhan 1439 H.  Menurut Rektor, ada sekitar 200 orang lebih yang diundang oleh Bapak Jusuf Kalla, yang kesemuanya adalah tokoh tokoh masyarakat Minang pada berbagai bidang; politik, pendidikan, sosial, agama dan lain sebagainya. Termasuk di dalamnya yang berstatus sebagai urang sumando, baik yang berada di Sumatera Barat maupun yang berdomisili di tanah rantau.

Pada kegiatan yang dihadiri Gubernur Sumatera Barat Prof. Dr. Irwan Prayitno, Rektor Eka Putra menyampaikan taushiyah dengan dengan mengambil tema Ramadhan dan Persatuan Bangsa. Menurut Eka, bulan Ramadahan adalah hadiah terbesar dari Allah kepada umat Islam. Disamping pahala berlipat ganda  yang bakal diberikan Allah, pada bulan suci tersebut intensitas kegiatan umat Islam yang terkait dengan ibadah semakin tinggi. Baik ibadah khasshah maupun ibadah ‘am. Rangkuman berbagai ibadah umat Islam pada bulan Ramadhan berimplikasi pada nilai nilai syahadaitain, shalat, zakat dan haji. Artinya nilai nilai Ramadhan sesungguhnya meningkatkan penghayatan syahadatain, kualitas dan kuantitas shalat, motivasi untuk mengeluarkan zakat dan kemudian keinginan menunaikan ibadah haji.

Terkait dengan persatuan bangsa, pada dasarnya rangkaian ibadah yang ada dalam agama Islam telah mengajarkan dan mendorong umat Islam untuk senantiasa menyukai bahkan membutuhkan persatuan. Bukankah dalam pelaksanaan shalat berjama’ah diwajibkan ada iman yang dimanuti oleh makmumnya. Begitupun ibadah zakat mengajarkan dan menumbuh suburkan jiwa sosial yang menjadi perekat kuat nilai nilai persatuan. Terlebih lagi bila kita mengkaji nilai nilai yang terkandung dalam pelaksanaan haji, ia memiliki nilai nilai kesatuan umat dalam menghambakan diri kepada Allah SWT.

Dipadang dari sudut sosial keagamaan, umat Islam di Indonesia telah mengalami pengalaman sejarah kesatuan dan persatuan yang berlangsung sejak berabad abad sampai hari ini. Di Indonesia sudah begitu lama berkembang empat mazhab pemahaman keagamaan yang berbeda dalam bidang fiqh. Keempat mazhab tersebut masing masing memiliki pengikut di negeri yang subur ini. Namun alhamdulillah, perbedaan mazhab tersebut belum pernah menjadi pemicu terjadinya kontak fisik antara dua komunitas yang berbeda mazhab. Begitupun terkait hubungan dengan umat yang berbeda agama. Dalam Islam jelas sangat pembatasnya, agamamu untukmu dan agamaku untukku.  Sementara untuk hal hal terkait dengan sosial, ekonomi, dan kenegaraan, Islam tidak melarang untuk bersama-sama dengan non muslim.

Pada hakekatnyanya menurut Rektor termuda jebolan Maroko tersebut, bicara persatuan dengan idiologi Pancasila dalam hidup bernegara di Indonesia, umat Islam tidak perlu lagi disangsikan. Sebab ajaran Islam dan pengalaman sejarah umat Islam di Indonesia sangat mendukung untuk itu. Umat Islam paling siap untuk bersatu, hidup berbangsa dan bernegara. Sangat siap menerima keberadaan umat lain, untuk duduak sama rendah, tegak sama tinggi  dibawah idiologi Pancasila. EN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *