Soal Pelayanan Akademik, Perwakilan Mhs Temui Rektor

HumasUINIB, 7/03/18

Merasakan masih kurangnya pelayanan akademik terhadap mahasiswa sebagai bagian dari civitas akademika, perwakilan Senat Mahasiswa dari seluruh fakultas menemui Rektor UIN Imam Bonjol, DR. Eka Putra Wirman, MA, Selasa 6/3/18 di ruang pertemuan rektorat kampus II Lubuk Lintah. Hadir dalam dialog tersebut Wakil Rektor I, II dan III, seluruh dekan, kepala Biro AUPK dan AAKK serta Kepala Pusat Infromasi dan Penggalangan Data.

Dalam pertemuaan yang dimoderatori  Wakil Rektor III bidang Adminstrasi Kemahasiswaan DR. Ikhwan, para pengurus senat tersebut menyampaikan aspirasi sebahagian besar mahasiswa UIN Imam Bonjol berkenaan dengan pelayanan akademik yang mereka terima. Mulai dari informasi adanya jurusan atau prodi yang belum terakreditasi, Portal Akademik yang belum maksimal dapat digunakan sehingga proses pemasukan nilai dan registrasi mahasiswa mengalami gangguan, ruang kuliah yang belum represenstatif, pelataran parkir yang belum juga selesai, sampai kepada issu gedung pertemuaan yang disewakan.

Menanggapi keluh kesah mahasiswa tersebut, Rektor Eka Putra Wirman dibantu ketiga Wakil Rektor, dengan rona wajah yang sejuk dan sikap kebapakan menjelaskan satu persatu persoalan yang dikemukakan.  Berkenaan dengan infromasi adanya prodi yang belum terakreditasi, Dr Eka menyatakan bahwa sebelum alih status menjadi UIN IB, sebanyak 35 prodi sudah terakreditasi di BAN-PT, walau masih ada yang bernilai C sebanyak 4 prodi, selebihnya B dan A. Kemudian setelah IAIN menjadi UIN IB maka akrditasi prodi dan jurusan tersebut harus diurus lagi, termasuk akreditasi universitas. Hal ini yang menadi faktor diundurnya wisuda ke 78 bulan Desember 2018, karena rektorat menginginkan ijazah yang diterima wisudawan adalah ijazah sudah terakreditasi. Proses pengurusan dimaksud memakan waktu sekitar 3-4 bulan. Persoalan makin bertambah karena ada perubahan nomenklatur di kementerian agama tentang nama nama prodi dan jurusan pada PTKIN, sehingga hal tersebut juga berpengaruh pada pengurusan akreditasi.

Sampai saat ini menurut Wakil Rektor I bidang Akademik Dra. Hetti Waluaty, P.hd, 26 prodi sudah terakreditasi B, 4 A dan selebihnya C. Di antara yang C tersebut ada masih menunggu hasil penilai visitasi yang sudah dilakukan oleh surveyer dari BAN-PT. Dengan demikian issu yang menginformasikan ada prodi di UIN IB tidak terakreditasi tidak dapat dibenarkan. Pihak rektorat sampai ke fakultas dan prodi terus berusaha untuk meningkatkan nilai akreditasi tersebut, namun tentu harus didukung oleh semua pihak, termasuk sikap mahasiswa dan prestasi yang mereka raih, baik secara akademik maupun ekstrakurikuler.

Berkenaan dengan portal akademik yang masih mengalami gangguan dalam penggunaannya, baik oleh dosen maupun mahasiswa, kepala pusat informasi dan penggalangan data UIN IB, Arwendria mengungkapkan bahwa keberadaan portal akademik pada sebuah perguruan tinggi sudah menjadi suatu kemestian dalam penggunaan media digital. Tidak hanya untuk kemudahan urusan administrasi akademik mahasiswa, namun juga sampai pada pelacakan keabsahan data seseorang terkait dengan statusnya dengan suatu perguruan tinggi. Karena itulah portal akademik UIN IB hadir, namun harus diakui bahwa portal masih mengalami beberapa gangguan saat dibuka, baik untuk pengisian nilai maupun registrasi mahasiswa. Pihaknya terus berupaya semaksimal mungkin meminimalisir gangguan tersebut dan juga pengembangan portal yang lebih berkualitas.

Terkait dengan ruang kuliah yang tidak representatif, pelataran parkir dan pelayanan sarana prasarana lainnya, Wakil Rektor II bidang Administrasi Perencanaan dan Keunangan, Dr. Firdaus, MA menerangkan kepada bahawasiswa bahwa UIN IBN adalah perguruan tinggi negeri yang anggaran keuangannya sampai proses pencairannya tidak hanya terbatas sesuai “jatah” yang diberikan pemerintah, namun juga harus mengikuti proses proses yang sudah diatur oleh pemerintah. Sekedar infromasi, anggaranyang diajukan untuk pengadaan bangunan masih dalam proses Dirjen Anggaran (DJA), diterima atau tidaknya sebahagian akan kita ketahui beberapa waktu kemudian. Andai diterima, proses pengadaannya membutuhkan waktu, mulai dari pelelangan sampai pada pelaksanaan. Itulah sebabnya pelataran parkir yang sudah dibangun belum dapat digunakan karena pengadaannya terdiri dari dua anggaran.  Hal ini juga berpengaruh secara waktu pada rencana pengadaan kursi mahasiswa sebanyak 100o buah yang direncanakan pada tahun ini. Sedangkan untuk perbaikan-perbaikan, dana perawatan yang dimiliki UIN IB sangat terbatas, sangat tidak mencukupi. Dana yang terbatas itulah yang semaksimal mungkin digunakan dengan melihat skala prioritas. Karena tidak hanya mahasiswa, dosen dan karyawanpun harus bersabar dengan kondisi yang ada. Yang pasti pihak rektorat terus berupaya memperbaiki segenap kekurangan yang ada.

Terakhir tentang issu adanya gedung pertemuan yang disewakan kepada mahasiswa, DR. Firdaus menegaskan bahwa gedung Serbaguna Mahmud Yunus dan gedung pertemuan St. Mansyur Dt. Nagari Basa di kampus II, untuk waktu waktu tertentu memang disewakan untuk pemasukan keuangan universitas. Namun harus hanya disewakan kepada pihak ketiga, tidak kepada mahasiswa yang melakukan kegiatan akademik yang sudah mendapat izin. Namun bila ada mahasiswa UIN IB sebagai bagian dari organisasi tertentu ingin melakukan kegiatan menggunakan gedung dimaksud, artinya saat itu statusnya sebagai pihak ketiga, bukan sebagai mahasiswa UIN IB, makanya ia harus bayar. Sebab kedua gedung tersebut perlu dibersihkan dan menggunakan arus yang tidak sedikit untuk penerangan dan soudsystem.

Pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam tersebut, berakhir dengan suasana penuh kekeluargaan. Rektor berharap kepada seluruh perwakilan mahasiswa yang hadir untuk dapat menjadi sambungan lidah pimpinan untuk menjelaskan dengan baik kepada kawan-kawan mahasiswa berkenaan dengan hal hal yang sudah dibicarakan. Sehingga mahasiswa UIN IB dapat memahami dan menerima dengan sikap yang bijak. EN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *