DAI, MAKLUMAT

DA’I MAKLUMAT

Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag. Ketua MUI Kota Padang

Satu bulan jelang Ramadhan 143 8H, tepatnya Rabu, 28 April 2017, Menteri Agama RI mengeluarkan maklumat ditujukan kepada pengelola rumah ibadah agar menyeleksi dan memperhatikan pesan keagamaan yang akan disampaikan dai, mubaligh dan khatib. Materi maklumat yang terdiri sembilan poin itu pada dasarnya normatif dan memang begitu seharusnya dalam menyampaikan pesan (dakwah) agama,
Artinya…”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[: Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl/16:125).

Masalahnya menjadi pertanyaan oleh sementara kalangan, adalah argumen yang dibangun mengapa adanya maklumat tersebut, misalnya seperti pernyataan yang dimuat media .. Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengungkapkan bahwa sebagai Menteri Agama ia merasa bertanggung jawab terhadap ancaman disintegrasi bangsa yang muncul dari pesan-pesan keagamaan yang ngawur. “Jangan sampai rumah ibadah ini menjadi tempat munculnya konflik di masyarakat, katanya. (Harian Padang Eskpres, Sabtu,29 April 2017, h.1). Lebih tegas dinyatakan Menag bahwa Kementrian Agama tidak akan mengintervensi pengelolaan rumah ibadah dan tidak akan melakukan sertifikasi khatib, sebagaimana beberapa waktu lalu menjadi wacana.

MAKNA MAKLUMAT
Menteri Agama mengunakan istilah maklumat tentu dengan pertimbangan dan pilihan konsep yang matang. Dalam kamus bahasa Indonesia dijelaskan  pemberitahuan; pengumuman.2 pengetahuan; memaklumatkan/ me·mak·lu·mat·kan /memberitahukan; memaklumkan; mengeluarkan  maklumat. Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas. Maklumat atau informasi merupakan hasil daripada pemprosesan, pengumpulan dan penganalisaan <a href=”https://ms.wikipedia.org/wiki/Data”>data</a> yang dapat menambah <a href=”https://ms.wikipedia.org/wiki/Pengetahuan”>pengetahuan</a> kepada penerima maklumat. Secara ringkas, maklumat merupakan konteks apabila data digunakan. Artinya yang ditujukan oleh maklumat adalah pengetahuan atau informasi yang mana informasi itu harus diketahui orang banyak.</p>

<p style=”text-align: justify;”>Mencermati pengertian maklumat yang lebih bersifat informatif untuk publik maka maklumat tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat. Maklumat lebih tepat dimaknai sebagai himbauan moral dan ikhitiar untuk mememenuhi tanggung jawab moralitas dari seorang yang bertanggung jawab dalam satu bidang agar ia dapat berjalan menurut semestinya. Artinya maklumat dapat dibuat oleh siapapun, namun ketika ia memasuki ranah hukum maka ia memiliki kekuatan hukum yang mengikat. Maklumat Mentri Agama harusnya dapat dipahami, disahuti dan ditempatkan oleh penceramah, pengkhotbah, pemuka umat dan pengelola rumah ibadah, karena memang Menteri pemegang amanah untuk urusan agama di dalam negara kesatuan Republik Indonesia. Mesti, harus dan kewajiban Menteri Agama memberikan maklumat, ketika ada sesuatu yang berpotensi menimbulkan situasi merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>

Revolusi medsos yang begitu dahsyat kini telah membawa efek luar biasa, tak terkecuali dalam penyampaian pesan agama, beragam dan begitu massifnya tulisan, laporan, opini, dan cuitan pegiat media sosial dalam mewartakan suatu keadaan telah membawa imbas bagi gerakan dakwah. Pembuat berita bohong <em>hoax</em> tidak saja mencukupkan informasinya tentang masalah politik, ekonomi, sosial budaya, akan tetapi juga menyasar soal-soal pesan keagamaan dan menghasut prilaku umat beragama. Pembuat “hoax”, itu ada yang memang memiliki prilaku menyimpang, sengaja membohongi publik. Artinya tidak bisa dipungkiri pesan agamapun tidak luput dari penyesatan melalui media sosial,” hoax” .

DAI DAN KUALITAS UMAT
Bersamaan dengan kecemasan pihak tertentu terhadap pola penyampaian pesan agama yang berpotensi merusak tatanan sosial kebangsaan, meski hanya sebatas dugaan belaka, belum ada penelitian akurat, harus diakui pula bahwa pesan agama dipertanyakan  efektivitasnya dalam mengubah prilaku umat beragama. Akar masalah yang menjadikan dakwah (baca dalam artian sebatas tabligh, ceramah agama dan taushiyah) dikatakan tidak efektif dan kurang berdayaguna adalah ketika pengaruh dakwah bagi kehidupan masyarakat sulit mengukurnya. Riuh rendahnya suara mubaligh dan padatnya kegiatan ceramah agama di rumah ibadah, kantor dan pusat komunitas khususnya di perkotaan,  terasa sebatas seremonial, karena maksiat dan pelanggaran moral terus menjadi-jadi.

Patut dipertimbangkan bahwa sisi paling dasar dari arti penting agama bagi kehidupan manusia adalah berkenaan dengan moral. Moral kehidupan individu, keluarga, sosial dan umat secara keseluruhan.  Moralitas paling utama tentu kebenaran agama itu sendiri. Dari kebenaran agama tersebut, lahir moralitas agung lain, seperti keadilan dengan segala turunannya, ketulusan, kesejahteraan, serta kedamaian. Nilai-nilai moralitas tersebut menjadi kembaran kebenaran agama karena merepresentasikan kebaikan (batini) yang merupakan sisi lain lembaran yang sama, kondisi seperti terasa semangkin jauh dari harapan.</p>
<p style=”text-align: justify;”>Pelaku utama dari penyampaian pesan agama dalam hal lain juga dipertanyakan kompetensi, khususnya dalam merealisasikan tugas mengembalikan agama kepada misi yang <em>genuine</em> yaitu hidup bermoral. Sebab, tanpa itu, agama akan menjadi sekadar pembenar bagi paham, ideologi, fatwa, atau tindakan yang belum tentu memiliki kebenaran sesuai dengan nilai agama serta belum tentu membawa kemaslahatan bersama. Maka takaran ketaatan pada ibadah dan kepedulian sosial umat dapat ditelisik dari perilaku keberagamaannya. Banyak umat yang melaksanakan ibadah ritual  tetapi mereka seolah-olahnya tidak mendapatkan apa-apa dari ibadah tersebut kecuali hanya gerakan fisik dan aktivitas rutin. Mereka asyik dan puas dengan ibadah mahdah itu dan merasa tidak bersalah jika ia tidak peduli tentang kesulitan masyarakat disekitarnya.</p>
<p style=”text-align: justify;”>Simbolisme ibadah yang mengajarkan gerakan fisik, tidak bersahutan dengan substansinya yaitu mengajarkan amalan-amalan hati. Padahal, yang diinginkan bukan gerakan fisik saja, tetapi ada pengaruhnya pada amalan hati. Dalam sebuah hadits dengan sangat tegas Rasulullah SAW menerangkan bahwa <em>tempat takwa adalah hati, bukan fisik</em> (HR Muslim dan Ahmad). Bahkan, yang datang kepada Allah SWT di hari kiamat dalam keadaan selamat adalah orang yang hatinya bersih, bukan ibadahnya banyak (26: 87-89). Karena, hati yang bersih adalah cermin dari ibadah yang benar, sedangkan ibadah yang banyak belum tentu menghasilkan hati yang bersih.</p>
<p style=”text-align: justify;”>Penyampai pesan agama, mubaligh atau dai hendaknya secara cerdas mengingatkan bahwa kita memang harus menjaga simbol agama, karena ia adalah bukti ketaatan  kepada Allah. Menurut Islam, menciptakan simbol ibadah adalah wewenang Allah saja. Ulama fikih membuat sebuah kaidah bahwa dasar dalam ibadah adalah terlarang kecuali ada perintah dari Allah. Namun, menjaga simbol bukan berarti harus meninggalkan substansi yang menjadi tujuan ibadah simbolik tersebut.</p>
<p style=”text-align: justify;”><strong>DAI DAN NEGARA</strong></p>
<p style=”text-align: justify;”>Kilas sejarah peran penyampaian pesan agama oleh dai, mubaligh, khatib dan penceramah dalam hubungkaitnya dengan pencapaian tujuan bangsa dan  keberadaan negara Republik Indonesia memberikan peran strategis dan menentukan. Sejak masa pra perintis kemerdekaan, zaman kolonial Belanda, Pondok Pesantren di Jawa, Surau di Minangkabau, Dayah di Aceh dan lembaga sejenisnya telah melahirkan ratusan ribu dai, mubaligh yang bukan saja berperan sebagai penyampaian pesan agama, tetapi mereka adalah pengerak, motivator, dan pejuang kebangsaan yang kelak diabadikan sebagai Pahlawan Nasional.</p>
<p style=”text-align: justify;”>Pengeran Diponegoro, Pahlawan Nasional adalah santri dari salah satu Pondok Pesantren di Jawa, Tuanku Imam Bonjol adalah ulama pembaharu yang menjadikan pemurnian agama sebagai modal dasar perjuangan melawan Belanda. Tengku Umar di Aceh, Sultan Hasanudddin di Makassar dan pahlawan nasional lainnya adalah mereka yang lebih dapat dikatakan sebagai pemuka agama yang menjadi pejuang bangsa. Jasa besar ulama pendiri organisasi sosial keagamaan , KH. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhamadiyah, Syekh Sulaiman Ar Rasuly Candung pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) adalah tiga sosok ulama, dai, pahlawan nasional, penyebar pesan keagamaan yang besar konstribusi bagi kejayaan bangsa dan negara Indonesia.</p>
<p style=”text-align: justify;”>Berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri, ADIA, IAIN, STAIN, kini UIN sejak era tahun 1960 an sudah melahirkan ribuan ulama, dai dan tokoh agama adalah mereka yang tidak bisa dibilang kecil perannya dalam mengisi kemerdekaan, membangun bangsa dan memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa. Lebih dalam lagi bila dikemukakan pula peran masyarakat yang dengan susah payah, mengurangi belanja rumah tangganya, ulama, dai dan aktivis umat mendirikan dan mengasuh Pondok Pesanteren, Madrasah Swasta, Pondok al-Qur’an, Majelis Taklim yang semuanya berkonstribusi besar bagi kuat dan kokoh negara Republik Indonesia.</p>
<p style=”text-align: justify;”>Akhir-akhir ini diakui memang ada segelintir lembaga agama yang disalahpakai oleh oknum dai, tokoh agama untuk menciderai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui aktivitas radikalisme ataupun terorisme, akan tetapi harus ditempatkan secara proporsional. Bagaimana mungkin mengenelisir, kasus beberapa orang dengan jutaan lembaga yang loyal dan pendiri setia NKRI. Artinya tuduhan, kecemasan, prasangka bahwa dai berpotensi merusak tatanan NKRI adalah mengada-ada, berlebihan dan tidak ilmiah. Dai, aktivis agama adalah pilar utama tegak dan majunya NKRI, itu baru tepat.</p>
<p style=”text-align: justify;”>Tugas pihak yang memiliki kewenangan dalam pembinaan dai dan aktivis adalah meluruskan dengan cara berdialog secara baik dengan mereka yang memang memilih kegiatan dakwah dengan cara radikal, cara-cara keras dan tidak toleran yang diyakini itu bentuk dakwah yang dapat merusak citra Islam sebagai <em>rahmatan lil alamin</em>. Begitu juga dengan orang perorang, dan atau korporasi yang mengiring  kecendrungan  pada “materialisasi” dakwah,  atau dai yang berorentasi “amplop” adalah virus ganas yang merusak kemurnian dan ketulusan dai dalam melaksanakan tugasnya. Lebih dari itu, prilaku komersialisasi dakwah dalam jangka panjang menjadikan dakwah tidak merata dan  menimbulkan jurang pemisah dalam masyarakat muslim.</p>
<p style=”text-align: justify;”>Sebagai bahagian akhir, disini ingin ditegaskan bahwa maklumat Menteri Agama RI dapat dikatakan bentuk dari kesadaran mendalam untuk mengembalikan agama pada tempat sejatinya. Memberikan penghormatan dan pemuliaan terhadap penyampaian pesan keagamaan yang selalu beriringan dengan tugas memajukan bangsa. Tidak boleh ada yang mengiring maklumat itu dimaksudkan untuk mengekang dakwah, membatasi mubaligh, mencampuri urusan pengurus rumah ibadah, sama sekali tidak. Penyampai pesan agama adalah pewaris sah NKRI, berkewajiban menjaga dan memeliharanya<em>. Merah darahku, sepertinya Merah darahmu. Bangunlah jiwanya bangunlah badannya, begitu nyanyian Indonesia raya.</em> Selamatkan Dai, Sejahterakan bangsa. Amin. Ds. 29042017.
Editor.EN</p>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *